Kampus III UIN Jakarta, STF News—Mahasiswa UIN Jakarta didorong menjadi agen filantropi bagi masyarakat di lingkungan tinggalnya dengan mengoptimalkan bakat, inovasi dan kreatifitasnya. Keikutsertaan mereka dalam gerakan filantropi menjadi jalan penting dalam melakukan transformasi masyarakat lingkungan asalnya menjadi lebih baik.

Demikian simpulan kegiatan Philanthropy Learning Forum Goes to Campus bertajuk Milennial Philanthropy: Sharing in ColaborAction di Ruang Teater Gedung FAH UIN Jakarta, Rabu (24/10/2018). Kegiatan diselenggarakan lembaga Filantropi Indonesia bekerjasama dengan STF UIN Jakarta.

Kegiatan yang digelar menjelang acara Volunteer Day 2018 pada hari Rabu 5 Desember mendatang menghadirkan sejumlah narasumber. Diantaranya Direktur STF UIN Jakarta Dr. Amelia Fauzia, Ketua Divisi Organisasi dan Kemitraan Filantropi Indonesia Sita Sutomo, dan Dewan Pengurus LAZISMU Rizaluddin Kurniawan.

Sita mengatakan, publik mengharapkan mahasiswa UIN Jakarta menjadi mahasiswa terdepan dalam menginisiasi program filantropi guna mendorong kehidupan masyarakat jadi lebih baik. Hal ini bisa menyasar sasaran seperti warga masyarakat miskin, perempuan, dan masyarakat terdampak bencana.

Menurutnya, tuntutan akademis sekaligus berbagi kepedulian bisa dilakukan secara bersamaan sejak masih menyandang status mahasiswa. “Optimalkan sebaik mungkin, agar hidup semakin bernilai dengan menginisiasi gerakan berbagi peduli bagi sesama,” katanya.

Rizaluddin menambahkan, pihak LAZISMU merupakan salah satu organisasi filantropi  tanah air yang cukup terbuka bagi mahasiswa UIN Jakarta untuk menjadi relawan filantropi. Peluang ini makin terbuka mengingat LAZISMU juga terus melebarkan aksi sosialnya ke berbagai daerah terdampak bencana maupun masyarakat di daerah tertinggal dan terluar.

“Untuk gempa Lombok, sejauh ini kita sudah melibatkan 500-an mahasiswa. Gempa Palu tak kurang 300 mahasiswa dilibatkan. Dan LAZISMU masih membuka diri bagi teman-teman yang ingin menjadi relawan peduli,” paparnya.

Sementara Amelia menuturkan, menjadi agen filantropi tak harus difahami dengan berdonasi rupiah. Menurutnya, menjadi agen ini mahasiswa juga bisa dilakukan dengan mengoptimalkan sikap kritis, kreatifitas, inovasi, dan penguasaan teknologi yang mereka miliki.

“Saat generasi kami, filantropi difahami donasi uang. Tapi kaum milenial seperti mahasiswa saat ini bisa mempraktekannya dengan hanya modal sosial ditopang inovasi, kreatifitas, dan penguasaan teknologi yang dimiliki,” paparnya.

Seperti halnya LAZISMU, sambung Amelia, UIN Jakarta juga memiliki lembaga filantropi STF UIN Jakarta yang membuka peluang besar bagi mahasiswa untuk aktif dalam gerakan filantropi. Berdiri sejak 2010 lalu, lembaga ini menjalankan filantropi guna meringankan beban sekaligus memberdayakan warga kurang mampu melalui program asuransi mikro hingga beasiswa mahasiswa berprestasi. (ZM)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here