Beranda Berita Rumah untuk Bertumbuh: Kisah Penerima Beasiswa Social Trust Fund

Rumah untuk Bertumbuh: Kisah Penerima Beasiswa Social Trust Fund

12

Di balik senyum para awardee Beasiswa Social Trust Fund (STF), tersimpan kisah perjuangan, keraguan, dan harapan yang perlahan menemukan jalannya. Beasiswa STF tidak sekadar hadir sebagai bantuan finansial, melainkan menjadi ruang tumbuh yang menguatkan mahasiswa dalam bertahan dan berkembang, baik secara akademik maupun personal.

Bagi sebagian mahasiswa, keputusan mendaftar beasiswa bukanlah langkah yang mudah. Keraguan terhadap kemampuan diri kerap muncul, terlebih ketika harus bersaing dengan banyak peserta lain yang dinilai lebih berpengalaman. Perasaan itulah yang juga dirasakan Badriyah Najah Umami, mahasiswa semester lima Program Studi Bahasa dan Sastra Arab, Najah mengenang awal perjalanannya mendaftar Beasiswa STF sebagai fase yang dipenuhi kebimbangan. Informasi mengenai beasiswa tersebut ia peroleh dari teman seangkatan, di tengah upayanya mencari bantuan biaya perkuliahan. Meski memiliki kebutuhan yang mendesak, rasa tidak percaya diri sempat membuatnya ragu untuk melangkah lebih jauh.  

“Awalnya saya ragu dan tidak percaya diri, apalagi ketika melihat peserta lain yang lolos seleksi tahap pertama memiliki pengalaman luar biasa, sementara saya merasa belum sampai di titik itu,” ujarnya.

Meski demikian, niat awal untuk meringankan beban perkuliahan mendorong Najah untuk tetap melanjutkan proses seleksi dengan disertai doa. “Alhamdulillah, atas rahmat Allah, saya diberi kesempatan menjadi bagian dari awardee Beasiswa STF,” katanya.

Bagi Najah, STF bukan hanya wadah pengembangan soft skill melalui praktik nyata, melainkan rumah yang menghadirkan rasa aman dan kebersamaan. “STF adalah tempat tumbuh yang dipenuhi cerita, tawa, dan dukungan dari orang-orang yang saling menguatkan. Maknanya baru benar-benar terasa ketika dijalani bersama,” tuturnya.

Pengalaman serupa dirasakan Ahmad Ganis Malewa, mahasiswa semester empat Program Studi Manajemen Dakwah Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi. Keputusan mendaftar Beasiswa STF diambilnya pada titik paling genting dalam hidupnya sebagai mahasiswa.

“Saat itu saya sudah di ambang putus kuliah. Ibu saya hanya seorang guru ngaji dan sudah kesulitan membiayai perkuliahan saya dan adik saya,” ungkapnya.

Beasiswa STF menjadi penopang utama agar ia dapat melanjutkan studinya. Namun, lebih dari sekadar bantuan biaya, Ganis mengaku STF telah membentuk kedisiplinan dan tanggung jawabnya. Berbagai kegiatan volunteer, pelatihan, hingga tugas pelayanan membuatnya belajar mengelola waktu dan komitmen.

“Saya mendapatkan banyak pengalaman dan pembelajaran baru. Dari seminar, jaga stand CS, ikut kevolunteeran, sampai membagi waktu antara kampus dan kegiatan STF,” jelasnya.

Sementara itu, Amaliah Rahmatunnisa, mahasiswa semester delapan Program Studi Ilmu Politik, melihat Beasiswa STF sebagai titik balik dalam pengembangan kepercayaan dirinya. Ia mendaftar ketika berada di posisi membutuhkan biaya kuliah sekaligus ingin mencoba hal baru di lingkungan kampus.

“STF cukup mengubah diri saya yang dulunya malu dan sulit berinteraksi dengan orang baru. Setelah menjadi awardee, saya jadi lebih percaya diri dan berani melakukan apa yang menurut saya benar,” ujarnya.

Lingkungan positif di STF menjadi faktor penting dalam proses tersebut. Amaliah mengaku merasa nyaman berada di tengah pengurus dan sesama awardee yang saling mendukung dan menguatkan.

Kisah-kisah ini menunjukkan bahwa Beasiswa Social Trust Fund bukan hanya tentang siapa yang paling berprestasi, melainkan tentang siapa yang mau berjuang, belajar, dan bertumbuh. STF hadir sebagai ruang aman bagi mahasiswa yang ingin bertahan dari keterbatasan sekaligus mengembangkan potensi diri.

Sebagaimana pesan Najah kepada para mahasiswa, “Beranikanlah untuk terus mencoba, jangan terlalu larut dalam keraguan, berikan segala yang terbaik yang kamu miliki, karena apa yang kamu tanam itulah yang akan kamu tuai.”

Beasiswa STF menjadi bukti bahwa kesempatan selalu terbuka bagi mereka yang berani melangkah, meski dengan rasa takut dan percaya bahwa proses tidak pernah mengkhianati usaha. (Putri Khoirina.N) 

TIDAK ADA KOMENTAR