Beranda Berita Villa Cercondeso, Ruang Wakaf yang Menghidupkan Gerakan Komunitas dan Asa Pendidikan Anak...

Villa Cercondeso, Ruang Wakaf yang Menghidupkan Gerakan Komunitas dan Asa Pendidikan Anak Negeri

9

Bogor, 10 Januari 2026 Kabut tipis turun perlahan saat malam menyelimuti kawasan Cidokom, Bogor. Udara dingin merayap, hujan sesekali menyentuh atap vila, dan suara alam menjadi latar kebersamaan puluhan anak muda yang tengah berdiskusi hingga larut. Suasana itu bukan berada di kawasan Puncak, melainkan di Villa Cercondeso, sebuah rumah wakaf produktif yang dikelola Centre for Community Development and Social Entrepreneurship (CERCONDESO).

Villa Cercondeso hadir sebagai ruang persinggahan sekaligus ruang perjuangan, tempat komunitas berkegiatan, bermusyawarah, dan membangun arah masa depan, sambil secara tidak langsung turut menopang program beasiswa anak-anak negeri yang dikelola oleh Social Trust Fund UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Fasilitas Lengkap di Tengah Alam yang Masih Terjaga

Terletak di kawasan hijau, Villa Cercondeso dirancang untuk mendukung berbagai kegiatan komunitas dan kelembagaan. Fasilitas yang tersedia meliputi dua kamar tidur, enam kamar mandi untuk kapasitas besar, aula dan ruang pertemuan, ruang tamu yang luas, dapur bersih dan fungsional, musholla, area parkir yang aman, serta camping ground untuk aktivitas luar ruang.

Dengan tarif sewa mulai dari Rp390.000 per malam, Villa Cercondeso menawarkan nilai yang jarang ditemukan di vila-vila sejenis. Seluruh hasil penyewaan dialokasikan untuk mendukung keberlangsungan program beasiswa, menjadikan setiap kunjungan sebagai bentuk kontribusi nyata bagi pendidikan generasi muda Indonesia.

Musyawarah, Kebersamaan, dan Pilihan yang Bermakna

Salah satu komunitas yang memanfaatkan fasilitas ini adalah Forum UKM UIN Jakarta yang menggelar Musyawarah Besar (Mubes), sebuah forum strategis yang diikuti oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Lembaga Otonom (LO), serta Lembaga Semi Otonom (LSO) di lingkungan UIN Jakarta. Musyawarah Besar tersebut diketuai oleh Zulfikar Ali Musa, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Umum Forum UKM UIN Jakarta.

Menurut Zulfikar, Villa Cercondeso dipilih karena menawarkan fasilitas yang memadai dengan harga terjangkau, tanpa mengurangi kualitas kegiatan.

“Dengan harga yang terjangkau, kami tetap mendapatkan fasilitas yang sangat baik. Ruang tamu, musholla, saung, hingga aula cukup luas dan mendukung kegiatan formal maupun kebersamaan,” ujarnya.

Selain faktor biaya, jarak dan aksesibilitas juga menjadi pertimbangan penting. Dibandingkan lokasi kegiatan sebelumnya di kawasan Puncak, Cercondeso dinilai lebih mudah dijangkau dan lebih efisien dari sisi transportasi.

Bagi Zulfikar, pemanfaatan Villa Cercondeso juga mencerminkan optimalisasi aset UIN Jakarta yang berdampak luas.

“UIN Jakarta memiliki aset yang luar biasa dan dapat dimanfaatkan oleh keluarga besar UIN dengan harga terjangkau, namun tetap memberikan kesan baik bagi seluruh peserta,” katanya.

Momen paling berkesan selama kegiatan berlangsung adalah saat seluruh elemen UKM, LO, dan LSO berkumpul dalam satu forum yang dinamis namun tetap cair dan penuh kebersamaan sebuah pengalaman kolektif yang sulit terulang kembali. Secara keseluruhan, Villa Cercondeso dinilai sangat membantu pelaksanaan kegiatan dengan anggaran minimal dan fasilitas maksimal.

Kesan Pertama yang Menenangkan

Pengalaman serupa dirasakan Syifa Kolbia Zahara dari Kelompok Pencinta Alam (KPA) Arkadia, yang turut menginap dan berkegiatan di Villa Cercondeso. Ia mengaku kesan pertama yang paling membekas adalah suasana alamnya yang kontras dengan lingkungan sekitar.

“Gunung Sindur identik dengan debu dan lalu lintas. Tapi begitu masuk Cercondeso, suasananya berubah total. Rumput hijau, vilanya masih asri, tenang, seperti berada di tempat lain,” tuturnya.

Kesan tersebut semakin diperkuat saat malam hari.

“Saat malam, rasanya seperti berada di Puncak. Udara dingin, kabut turun, suasananya hangat dan kekeluargaannya terasa. Apalagi ketika hujan, itu jadi momen yang paling berkesan,” tambah Syifa.

Ia juga menyinggung pengalaman unik mendengar suara bel di pagi dan malam hari, yang mengingatkannya pada suasana lingkungan pesantren, detail kecil yang justru memperkaya pengalaman menginap.

Bagi Syifa, keberadaan Villa Cercondeso sebagai rumah wakaf yang terbuka untuk publik dan komunitas memiliki arti penting bagi gerakan sosial dan kepemudaan.

“Banyak komunitas membutuhkan tempat kegiatan yang layak tapi terjangkau. Dibandingkan vila lain yang harganya jutaan per malam, Cercondeso menawarkan fasilitas lengkap dengan harga yang sangat masuk akal, bahkan bisa menampung lebih dari 20 orang,” jelasnya.

Ia juga menyampaikan catatan evaluatif terkait tekanan air di kamar mandi dan optimalisasi peralatan dapur, namun menegaskan bahwa secara keseluruhan Villa Cercondeso sangat membantu pelaksanaan kegiatan komunitas.

Menginap, Berkegiatan, dan Berbagi

Villa Cercondeso bukan sekadar tempat bermalam. Ia adalah ruang temu antara kenyamanan dan kepedulian sosial. Setiap kegiatan yang terlaksana, setiap komunitas yang datang, secara langsung berkontribusi pada harapan anak-anak Indonesia untuk terus mengenyam pendidikan.

Di Cercondeso, musyawarah bukan hanya tentang pergantian kepengurusan. Ia menjadi simbol bahwa dari ruang-ruang sederhana dan terjangkau, lahir keputusan-keputusan penting dan dari setiap malam yang dihabiskan, tumbuh harapan untuk masa depan yang lebih adil melalui pendidikan.

TIDAK ADA KOMENTAR