Beranda Berita Social Trust Fund UIN Jakarta Berpartisipasi dalam Seminar Internasional: Reimagining the Islam...

Social Trust Fund UIN Jakarta Berpartisipasi dalam Seminar Internasional: Reimagining the Islam Citizenship Nexus

18

Jakarta, 23 Februari 2026 — Social Trust Fund (STF) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta turut berpartisipasi dalam seminar internasional series dengan tema “Reimagining the Islam-Citizenship Nexus: Democracy and Inclusive Public Ethics in Indonesia”. Kegiatan yang digelar oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini berlangsung di Ruang Diorama, Auditorium Harun Nasution. 

Seminar ini menghadirkan Prof. Robert Hefner sebagai keynote speaker. Turut hadir Rektor UIN Jakarta Prof. Asep Saepudin Jahar, M.A., Ph.D. Wakil Rektor IV Bidang Kerja Sama dan Pengembangan Kelembagaan., Prof. Dr. Din Wahid, M.A., Ph.D., Kepala LP2M Prof. Amelia Fauzia, Ph.D, pembicara Prof. Ismatu Ropi, MA, Ph.D dan Prof. lim Halimatusa’diyah, Ph.D, yang dimoderatori oleh Puspi Eko Wiranthi, Ph.D., serta dihadiri oleh sivitas akademika lintas fakultas, beserta tamu undangan.

Dalam sambutannya, Prof. Amelia Fauzia menegaskan pentingnya membaca dan mendiskusikan buku Prof. Hefner berjudul Islam and Citizenship in Indonesia. Menurutnya, diskursus mengenai hubungan Islam dan kewargaan menjadi sangat relevan dalam konteks demokrasi Indonesia yang membutuhkan ruang publik inklusif.

“Pertanyaan tentang seberapa inklusif publik di Indonesia menjadi sangat penting, karena demokrasi membutuhkan itu,” ujarnya. Ia juga berharap forum akademik ini menjadi penyemangat refleksi keilmuan di bulan Ramadhan sekaligus memperkuat posisi UIN Jakarta sebagai world class university.

Rektor UIN Jakarta, Prof. Asep Saepudin Jahar, dalam pidato pembukaannya menyampaikan apresiasi atas kontribusi panjang Prof. Hefner dalam kajian Islam Indonesia sejak era Orde Baru hingga pasca-Reformasi. Ia menekankan bahwa Indonesia merupakan satu-satunya negara mayoritas Muslim yang dinilai berhasil mengkonsolidasikan demokrasi elektoral secara efektif.

“Seminar ini penting agar kita dapat memahami temuan-temuan terbaru tentang Islam Indonesia, termasuk dinamika konservatisme, liberalisme, dan moderasi dalam demokrasi kita,” ungkapnya.

Dalam pemaparannya, Prof. Robert Hefner menyoroti capaian Indonesia sebagai negara mayoritas Muslim yang mampu menjalankan sistem demokrasi secara relatif stabil di tengah tren kemunduran demokrasi global. Ia mengutip pandangan ilmuwan politik Larry Diamond mengenai regresi demokrasi dunia, namun menilai Indonesia memiliki kekuatan unik pada tradisi masyarakat sipilnya.

Menurutnya, peran dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah menjadi faktor kunci dalam menopang demokrasi dan kewargaan inklusif. Kedua organisasi tersebut tidak hanya besar secara jumlah, tetapi juga memiliki komitmen historis terhadap pendidikan, kesejahteraan sosial, dan nilai-nilai kebangsaan berbasis Pancasila.

“Demokrasi tidak lahir dari satu sebab tunggal, tetapi dari interaksi berbagai variabel sosial, politik, dan etis. Di Indonesia, kekuatan masyarakat sipil berbasis keagamaan memainkan peran yang sangat signifikan,” jelasnya.

Prof. Ismatu Ropi dalam tanggapannya mengajak peserta untuk bergerak dari konsep toleransi yang rapuh menuju kewargaan penuh yang setara dan inklusif bagi seluruh warga negara. Ia menegaskan bahwa relasi Islam dan demokrasi di Indonesia bukanlah pertentangan antara agama dan sekularisme, melainkan perdebatan internal dalam diskursus Islam itu sendiri.

Sementara itu, Prof. Iim Halimatus Sa’diyah menyoroti dimensi moral citizenship dan perjuangan perempuan Muslim dalam ruang publik. Ia mengajukan pertanyaan kritis mengenai sejauh mana konsep inclusive public ethics realistis di tengah dinamika mayoritas-minoritas, serta bagaimana posisi organisasi masyarakat sipil tetap dapat menjaga jarak kritis terhadap negara.

Bagi Social Trust Fund, diskusi ini relevan dalam memperkuat perspektif filantropi Islam yang tidak hanya berorientasi pada bantuan sosial, tetapi juga pada pembangunan kewargaan yang inklusif, adil, dan bermartabat. Nilai-nilai etika publik dan tanggung jawab sosial menjadi pondasi penting dalam praktik pengelolaan zakat, infak, dan sedekah yang berdampak luas.

Partisipasi STF dalam forum ini menjadi bagian dari komitmen untuk terus mengembangkan pendekatan filantropi berbasis riset, demokrasi sosial, dan penguatan masyarakat sipil. (Putri Khoirina)

TIDAK ADA KOMENTAR