Beranda Tak Berkategori Asah Keterampilan Meneliti Awardee Beasiswa, STF UIN Jakarta Gelar Academic Writing tentang...

Asah Keterampilan Meneliti Awardee Beasiswa, STF UIN Jakarta Gelar Academic Writing tentang Pendekatan Fenomenologi

15

Jakarta, 30 Oktober 2026 — Memahami suatu fenomena tidak cukup hanya dengan melihat apa yang tampak di permukaan. Peneliti perlu menggali pengalaman, cerita, dan sudut pandang orang-orang yang mengalaminya secara langsung. Hal inilah yang menjadi salah satu pembahasan dalam kegiatan STF Academic Writing bertema “Metodologi Penelitian Kualitatif: Pendekatan Fenomenologi” yang diselenggarakan Social Trust Fund (STF) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada Jumat (30/10).

STF Academic Writing ini merupakan salah satu dari rangkaian pembinaan bagi awardee STF UIN Jakarta yang pada kesempatan ini menghadirkan pemateri Ibu Dr. Tri Harjawati, S.Pd., M.Si. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa fenomenologi merupakan pendekatan penelitian yang berfokus pada pemahaman makna dan esensi pengalaman manusia terhadap suatu fenomena. Pendekatan ini terbagi menjadi dua, yaitu fenomenologi deskriptif yang menggambarkan makna pengalaman manusia dan fenomenologi interpretatif yang berupaya menafsirkan pengalaman tersebut.

Dr. Tri menekankan bahwa data dalam penelitian fenomenologi bersumber dari cerita dan ungkapan partisipan. Karena itu, peneliti perlu membangun hubungan yang baik dengan narasumber, menyampaikan pengalaman mereka secara transparan, serta menggali informasi secara mendalam. Peneliti juga dituntut untuk bersikap netral dan mengesampingkan prasangka agar tidak memaksakan pandangannya sendiri terhadap pengalaman partisipan.

Dalam proses pengumpulan data, wawancara dan observasi menjadi bagian penting. Wawancara tidak sekadar berisi kegiatan bertanya, tetapi juga upaya memahami pengalaman narasumber. Pertanyaan sebaiknya tidak terlalu banyak agar jawaban dapat mengalir dan memberikan ruang bagi peneliti untuk menggali alasan di balik suatu pengalaman. Sementara itu, observasi dilakukan dengan terjun langsung ke lapangan dan, bila memungkinkan, terlibat dalam aktivitas yang dijalani narasumber.

Ia juga menjelaskan bahwa jumlah partisipan dalam penelitian fenomenologi tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya informan, melainkan oleh kecukupan dan kedalaman data yang diperoleh. Setelah data terkumpul, peneliti perlu membaca keseluruhan ungkapan partisipan, menganalisis keterkaitan informasi, hingga merumuskan temuan yang memiliki kebaruan atau novelty penelitian.

Sesi diskusi turut membahas cara menentukan metode penelitian dan menemukan novelty. Menanggapi pertanyaan peserta, Dr. Tri menyarankan agar peneliti terlebih dahulu menelusuri berbagai persoalan serta penelitian terdahulu yang relevan. Hasil penelusuran tersebut kemudian dapat dianalisis dengan bantuan perangkat seperti VOSviewer untuk penelitian kuantitatif dan NVivo untuk penelitian kualitatif, sehingga peneliti dapat melihat keterkaitan maupun ruang kajian yang belum banyak diteliti.

Melalui kegiatan ini, STF UIN Jakarta berharap peserta tidak hanya memahami pendekatan fenomenologi secara konseptual, tetapi juga mampu menerapkannya dalam proses penelitian. Dengan demikian, penelitian yang dilakukan tidak berhenti pada pengumpulan informasi, melainkan mampu menghadirkan pemahaman yang lebih mendalam dan temuan yang bermakna. (Pen. Ibrahim Thoriq | Ed. Nurwanti)

TIDAK ADA KOMENTAR