Jakarta — Perjalanan akademik Siti Rohwati menjadi bukti bahwa latar belakang sederhana bukanlah penghalang untuk berprestasi di dunia akademik. Mahasiswi asal Kabupaten Blora tersebut baru saja menyelesaikan studi magister (S2) di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Program Studi Pengkajian Islam dengan konsentrasi antropologi dan sosiologi agama, dengan dukungan Beasiswa STF, Sabtu (07/02/2026).

Lahir dari keluarga petani, Siti mengaku tidak pernah membayangkan akan melanjutkan pendidikan hingga jenjang pascasarjana di ibu kota. Setelah menyelesaikan studi S1 di UIN Sunan Kudus pada Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam dan lulus sebagai lulusan terbaik, ia memperoleh dukungan dari Pemerintah Kabupaten Blora untuk melanjutkan studi S2.

“Orang tua saya bukan berasal dari latar akademik, tetapi mereka punya daya juang yang luar biasa dalam mendukung pendidikan anak-anaknya. Kesadaran akan perjuangan mereka itulah yang menjadi energi saya untuk terus melangkah,” ujar Siti.

Memasuki dunia pascasarjana di Jakarta bukan perkara mudah. Ia harus beradaptasi dengan ritme akademik yang cepat, lingkungan intelektual yang kompetitif, serta pergaulan yang sangat beragam. Di semester awal, rasa minder dan keraguan kerap menghampiri.

“Pertanyaan yang sering muncul di kepala saya waktu itu sederhana tapi menghantui: apakah saya mampu?,” tuturnya.

Titik balik kepercayaan diri Siti bermula ketika ia mengenal Beasiswa STF di pertengahan semester. Meski sempat merasa pesimis, dukungan dari dosen pembimbingnya, Bapak Hamdani, menguatkan langkahnya.

“Saya masih ingat betul kalimat beliau: ‘Semua bisa dipelajari asalkan kita mau tekun.’ Dari situ saya mulai belajar melihat diri saya bukan dari keterbatasan latar belakang, tetapi dari potensi yang bisa terus dikembangkan,” katanya.

Berbekal penelitian tentang kehidupan adat masyarakat Samin di Blora yang sekaligus menjadi refleksi atas akar sosial-budayanya Siti memberanikan diri mendaftar Beasiswa STF. Proses seleksi, mulai dari administrasi hingga wawancara, justru menjadi ruang pembelajaran yang berharga.

Ia tak menyangka ketika pengumuman menyebutkan namanya sebagai salah satu dari lima penerima beasiswa yang terpilih. Bagi Siti, Beasiswa STF bukan sekadar bantuan finansial, melainkan pengakuan atas proses panjang yang telah ia tempuh.

Selama menjadi penerima Beasiswa STF, Siti mencatatkan sejumlah capaian membanggakan. Ia berhasil memublikasikan beberapa artikel di jurnal terindeks SINTA serta meraih penghargaan dalam kompetisi nasional Nusantara Academic Writing.

“Bagi saya, publikasi dan prestasi itu bukan hanya soal angka, tetapi bukti bahwa saya bisa berkontribusi dalam diskursus ilmiah yang lebih luas,” jelasnya. 

Kini, setelah resmi diwisuda, Siti memaknai gelar dan prestasi yang diraihnya sebagai amanah. Ia berharap dapat berkontribusi sebagai alumni Beasiswa STF dengan mendampingi dan menguatkan penerima beasiswa selanjutnya.

“Saya ingin menjadi jembatan bagi adik-adik penerima berikutnya, berbagi pengalaman, dan membangun ruang diskusi yang saling menguatkan. Perjalanan akademik itu tidak harus dilalui sendirian,” tuturnya.

Baginya, keberhasilan sejati bukan hanya tentang capaian personal, melainkan tentang dampak yang bisa diberikan kepada orang lain.

“Semakin tinggi kesempatan yang diberikan, semakin besar pula tanggung jawab untuk memberi manfaat terutama bagi masyarakat dan akar sosial-budaya tempat saya berasal,” tutupnya. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here