Auditorium Harun Nasution, Berita STF Online — Di balik senyum bahagia para wisudawan, tersimpan kisah perjuangan panjang yang penuh proses, pengorbanan, dan ketekunan. Salah satu cerita inspiratif datang dari Anandhia Claudy Tasya atau yang akrab disapa Audy, lulusan Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus awardee Beasiswa Prestasi Social Trust Fund (STF), yang berhasil meraih predikat Wisudawan Terbaik S1 pada Wisuda ke-140 UIN Jakarta, Sabtu (23/05/2026).
Bagi Audy, perjalanan selama menempuh pendidikan di bangku kuliah bukanlah proses yang selalu mudah. Ia harus menghadapi berbagai tantangan, mulai dari membagi waktu antara perkuliahan, organisasi, kegiatan mengajar, hingga target-target pribadi yang ingin dicapai. Di tengah aktivitas yang padat, rasa lelah dan keraguan terhadap kemampuan diri juga sempat hadir, terutama ketika menghadapi kegagalan dalam perlombaan maupun target yang belum tercapai.
Namun, berbagai proses tersebut justru menjadi ruang pembelajaran yang membentuk dirinya menjadi lebih kuat dan konsisten. Dengan semangat pantang menyerah, Audy berhasil menyelesaikan studinya dengan prestasi gemilang dan meraih IPK 3,97.
“Perjalanan selama kuliah tentu tidak selalu mudah, tetapi penuh proses yang sangat membentuk diri saya. Dari setiap proses itu saya belajar untuk tetap konsisten dan tidak mudah menyerah,” ungkap Audy.
Di balik pencapaian akademiknya, Audy juga memiliki pengalaman yang sangat membekas selama menjadi mahasiswa. Ia membentuk kelompok mentoring kecil bagi teman-teman yang belum lancar membaca Al-Qur’an. Sepulang kuliah, mereka rutin belajar bersama hingga akhirnya para peserta mentoring mampu membaca Al-Qur’an dengan lancar bahkan mulai menghafal Juz ‘Amma.
Baginya, kebahagiaan terbesar bukan hanya tentang prestasi pribadi, tetapi tentang bagaimana keberadaannya dapat memberi manfaat bagi orang lain.
“Dari situ saya memahami bahwa pencapaian terbaik bukan hanya tentang prestasi pribadi, tetapi juga tentang bagaimana keberadaan kita bisa memberi manfaat bagi orang lain,” tambahnya.
Sebagai penerima Beasiswa Prestasi STF, Audy mengaku bahwa beasiswa yang diterimanya bukan sekadar bantuan pendidikan, melainkan sebuah bentuk kepercayaan dan tanggung jawab besar yang harus dijaga. Dukungan tersebut memberinya ruang untuk lebih fokus menjalani perkuliahan, mengikuti pelatihan, serta aktif dalam berbagai kegiatan pengembangan diri.
Tidak berhenti pada pengembangan diri sendiri, Audy juga terdorong untuk memberikan dampak positif kepada lingkungan sekitar. Ia aktif mengadakan pelatihan public speaking dan administrasi sederhana bagi mahasiswa lain sebagai bentuk kontribusi dan kepedulian terhadap sesama mahasiswa.
“Saya percaya bahwa ilmu dan kesempatan yang kita dapatkan akan lebih bermakna ketika bisa dibagikan kepada orang lain,” tuturnya.
Di akhir wawancara, Audy membagikan pesan inspiratif kepada mahasiswa lainnya agar tidak terlalu sibuk membandingkan diri dengan orang lain. Menurutnya, setiap mahasiswa memiliki proses dan waktunya masing-masing.
“Fokus pada perkembangan diri sendiri dan terus lakukan hal-hal kecil secara konsisten. Prestasi besar lahir dari disiplin yang dijaga setiap hari, bahkan ketika sedang lelah atau kehilangan semangat,” pesannya.
Ia juga mengajak mahasiswa untuk berani mencoba berbagai peluang baru, baik dalam perlombaan, organisasi, beasiswa, maupun pelatihan pengembangan diri.
“Kadang kita merasa belum cukup mampu, padahal keberanian untuk memulai adalah langkah awal dari perkembangan diri,” pungkasnya.
Prestasi yang diraih Audy menjadi bukti bahwa keberhasilan tidak hanya diukur dari capaian akademik semata, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada lingkungan sekitar. Sosoknya hadir sebagai inspirasi bagi mahasiswa untuk terus bertumbuh, berprestasi, dan menebarkan kebermanfaatan di tengah masyarakat.