Auditorium Harun Nasution, Berita STF Online — Di balik senyum bahagia para wisudawan, terdapat cerita perjuangan panjang yang penuh dinamika. Salah satunya datang dari Lucy Rachmawati, lulusan Program Studi Psikologi sekaligus awardee Beasiswa Prestasi Social Trust Fund (STF) yang berhasil meraih predikat Wisudawan Terbaik S1 pada Wisuda ke-140 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Minggu (24/05/2026).

Selama menjalani masa perkuliahan, Lucy mengaku menghadapi banyak tantangan, mulai dari tuntutan akademik hingga aktivitas organisasi yang harus dijalani secara bersamaan. Di tengah kesibukan itu, ia juga harus menempuh perjalanan pulang-pergi menggunakan transportasi umum setiap harinya.

“Selama kuliah, aku selalu pulang-pergi naik transportasi umum, dan aku juga ikut organisasi internal maupun eksternal. Secara fisik dan mental itu capek banget, karena aku harus bisa menyeimbangkan waktu dan energi antara tuntutan akademik, organisasi, dan kegiatan lainnya,” ujarnya.

Menurut Lucy, salah satu fase paling menantang selama kuliah terjadi ketika memasuki semester akhir. Saat itu, kegiatan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) berjalan bersamaan dengan proses penyusunan skripsi yang menuntut fokus dan manajemen waktu yang baik.

Meski begitu, berbagai tantangan tersebut justru menjadi bagian dari proses yang membentuk dirinya hingga berhasil meraih predikat wisudawan terbaik. Ia mengungkapkan rasa syukur atas apresiasi yang diberikan Fakultas Psikologi kepada mahasiswa berprestasi, baik di bidang akademik maupun non-akademik.

“Setiap tahun Fakultas Psikologi memberikan penghargaan prestasi akademik dan non-akademik mahasiswa. Itu menjadi pemicu bagi mahasiswa untuk memberikan yang terbaik, dan alhamdulillah aku konsisten mendapatkannya selama tiga tahun,” katanya.

Bagi Lucy, pencapaian akademik bukan sekadar soal angka atau nilai di atas kertas. Ia merasa proses bertumbuh selama menjadi mahasiswa jauh lebih berarti dibandingkan hasil akhir yang diperoleh.

“Bagiku, nilai adalah hasil angka dari proses belajar kita. Tapi yang paling berarti justru proses bertumbuh selama perkuliahan itu sendiri. Aku jadi lebih memahami diri sendiri, belajar resilience, dan sudut pandangku juga lebih luas sejak belajar psikologi,” ungkapnya.

Selain aktif di bidang akademik dan organisasi, Lucy juga merasakan manfaat besar sebagai penerima Beasiswa Prestasi Social Trust Fund (STF). Menurutnya, beasiswa tersebut bukan hanya membantu dari sisi finansial, tetapi juga menjadi ruang untuk berkembang dan terus termotivasi memberikan dampak positif.

“Beasiswa STF bukan hanya membantuku secara finansial dalam pembayaran UKT, tetapi juga menjadi ruang untuk bertumbuh. Aku jadi lebih termotivasi untuk menjaga akademik, aktif mengembangkan diri, dan berusaha memberikan dampak baik,” tuturnya.

Pengalaman sebagai awardee STF juga mempertemukannya dengan banyak mahasiswa dari berbagai jurusan yang dinilainya inspiratif dan suportif. Lingkungan tersebut membuat Lucy semakin terdorong untuk terus berkembang menjadi versi terbaik dirinya sendiri.

Di akhir wawancara, Lucy membagikan pesan kepada mahasiswa yang masih berjuang menyelesaikan kuliah maupun mengejar prestasi dan beasiswa. Ia mengingatkan agar mahasiswa tidak terlalu sibuk membandingkan diri dengan pencapaian orang lain.

“Jangan terlalu sibuk membandingkan diri dengan pencapaian orang lain sampai lupa menghargai proses diri sendiri. Tetaplah resilience ketika keadaan tidak sesuai harapan, dan jangan takut mencoba meskipun merasa belum cukup baik,” pesannya.

Lucy percaya bahwa setiap proses memiliki waktunya masing-masing dan selalu membawa pelajaran berharga bagi kehidupan. “Trust your own pace, celebrate small progress, and remember that growth is also an achievement,” tutupnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here