Tak Kenal Lelah Berjuang Untuk Kuliah

200

Ipan Maspupan

Matanya terus dipaksa menat­ap data-data di layar monitor. Sesekali ia membolak-balik ker­tas putih yang menumpuk di atas mejanya, lalu kembali memencet papan tuts untuk memasukkan data. Empat kali dalam seminggu memasukkan data penuh angka ke komputer adalah hal yang san­gat membosankan, terlebih hanya dengan gaji Rp200 ribu per bulan. Namun apa daya, semua pekerjaan itu harus ia jalani karena tak ada pilihan lain.

Ipan Maspupan namanya. Pria asal Garut ini masih berusia 21 ta­hun, dan baru duduk di semester 3 Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Namun, pengalamannya untuk melanjutkan studinya bisa dia­cungi jempol. Banyak pekerjaan serabutan telah dilakoni. Ia per­nah berjualan nasi kucing dengan modal menjual vespa miliknya. Pekerjaan itu hanya bertahan be­berapa bulan, karena uang usaha dibawa kabur temannya sendiri. Diapun harus rela menanggung biaya sewa tempat yang sampai se­karang belum lunas.

Kesulitan yang menderanya tak berani ia sampaikan kepada kel­uarga. Orang tuanya terlanjur senang karena menyangka Ipan telah menerima beasiswa sejak semester awal. Ia teringat, saking senangnya, sang Ibu pernah mem­buatkan tumpeng sebagai bentuk syukur karena Ipan diterima di Perguruan Tinggi. “Saya sempat menangis tersedu-sedu di halte kampus saat mengetahui informa­si beasiswa itu tidak jadi ia terima,” ujar Ipan. Alih-alih berkata jujur yang mungkin bisa dimengerti orang tuanya, Ipan justru memilih untuk berjuang sendiri.

Ipan juga pernah menjalani pekerjaan sebagai pencuci motor. Pekerjaan itu ia lakukan selepas jam kuliah. Kulitnya yang sensitif dengan deterjen, membuatnya harus menahan perih tiap waktu. Hanya hal itu yang bisa dilakukannya, setelah 27 lamaran kerjanya ditolak. Masa-masa akhir semester adalah momok baginya. Pasalnya, uang SPP yang baginya amat mahal sudah harus ia siapkan. Ipan pun harus melipatgandakan usahanya mencari penghasilan.

Ipan sempat bergumam dan mer­atapi nasib. Alangkah beruntung­nya teman-teman di kampusnya yang bisa gonta-ganti sepatu kapan pun ia mau, sedang dirinya hanya bisa membeli sepatu second dari tukang sol sepatu. Malang nian, terlebih saat satu-satunya sepatu yang ia miliki diambil pemulung. Ipan pun harus mengenakan san­dal ke kampus. “Itu pun pinjaman,” tukasnya.

Orang mungkin sempat tidak per­caya apa yang telah menimpan­ya selama ini. Sejak pertama kali menginjakkan kakinya di Ciputat hingga semeseter 2, Ipan tidak memiliki tempat tinggal atau kos layaknya mahasiswa lain. Untuk menyiasatinya, ia menumpang, berpindah dari satu kosan ke ko­san temannya yang lain. Baru saat menjelang semester 3, dia bisa merasakan betapa nikmatnya pun­ya kamar kos sendiri, meski ia ha­rus berbagi dengan 14 teman lain­nya dalam satu rumah kontrakan yang dibayar patungan.

Bagaimanapun, Ipan merasa bang­ga karena ia mampu bertahan. Ia tak pernah meminta uang sepeser pun kepada orang tua untuk mem­biayai kuliahnya. Ipan pun harus menahan kerinduan tak pulang ke kampung halaman dalam wak­tu lama untuk menghemat uang. “Pulang ke rumah juga semakin bikin sedih,” tuturnya. Ipan tak in­gin ibu-bapaknya tahu bagaimana kesulitasn yang dialaminya.

Kini, Ipan dapat tersenyum lega. Minimal ia tak perlu bersusah payah memikirkan uang SPP yang nilainya sangat besar bagi seorang Ipan. Ya, Ipan adalah salah satu penerima beasiswa STF sejak akhir tahun 2014 lalu. Meski harus ber­juang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, prestasi akademik Ipan tetap terjaga. IPK terakhir yang diraihnya mencapai 3,6.

Namun, perjuangan Ipan belum berakhir. Ia masih menyisakan empat semeter masa studinya. Ipan masih harus menjaga prestasi akademiknya agar tetap mendapat beasiswa. Ia juga masih harus bek­erja untuk memenuhi kebutuhan sehari-sehari. [fah/mir].

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here