Pemahaman akan agama Islam merupakan keniscayaan dan keharusan bagi kaum muslim. Salah satu jalan untuk mencapai kepada pemahaman akan agama Islam adalah dengan cara memahami dasar-dasar kajian dalam agama Islam. Dasar kajian dalam agama Islam meliputi tasawuf, kalam, fiqih, dan tafsir. Dalam hal ini upaya untuk memahami secara mendalam akan dasar-dasar kajian Islam salah satunya yakni tasawuf, STF UIN Syarif Hidayatullah Jakarta memfasilitasi dengan mengadakan program Belajar Islam untuk Profesional (BISPRO) dengan narasumber Dr. Hj. Wiwi Siti Sajaroh, M.Ag (Wakil Sekertaris Komisi Dakwah MUI Pusat, Anggota Bidang Advokasi Hukum dan Litbang PP Muslimat NU, Dosen Fakultas Ushuludin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta).

Tasawuf merupakan ilmu yang mengajarkan bagaimana seharusnya sikap mental seorang manusia sebagai makhluk kepada Allah dan hubungan kepada sesama manusia. Dalam hal ini tasawuf tidak hanya mementingkan hubungan ibadah kepada Allah, namun juga memperhatikan hubungan baik antar manusia sebagai sesama makhluk. Dengan demikian dapat dipahami bahwa intisari dari tasawuf adalah kesadaran akan komunikasi dan dialog antara manusia dan Tuhan secara ruhaniah dan hubungan baik antar makhluk.

Tasawuf berlandaskan kepada Al-Quran dan hadist. Salah satu sumbernya adalah Surat Al-Baqarah ayat 186 “Jika hambaKu bertanya kepadamu tentang diri-Ku, maka katakanlah (wahai Muhammad) Aku dekat dan mengabulkan permohonan orang-orang yang berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi perintah-Ku dan beriman kepada-Ku, supaya mereka selalu dalam kebenaran”. Sedangkan dari hadist adalah hadist qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori “Jika seorang hamba mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekat satu hasta, jika mendekat satu hasta, maka Aku mendekat sedepa, dan jika mendakat kepada-Ku berjalan, maka aku mendekatinya berlari’’.

Dalam praktiknya taswuf telah dilakukan oleh nabi bahkan sebelum Muhammad diangkat menjadi rasul. Kemudian terus dipraktikan hingga setelah nabi diangkat menjadi rasul dan diikuti oleh para sahabat. Setelahnya dipraktikkan oleh para tabi’in dilanjutkan oleh para tabiut tabi’in dan terus berlangsung dipraktikkan oleh para ulama setelahnya, sehingga masih terus berlangsung hingga hari ini.

Dalam penerapannya tasawuf dikenali dengan berbagai corak. Dua di antaranya adalah taswuf akhlaqi dan tasawuf falsafi. Tasawuf akhlaqi adalah corak tasawuf yang menekankan kepada amaliah-amaliah. Sedangkan tasawuf falsafi adalah corak tasawuf yang mengutamakan pemikiran-pemikiran filosofi dengan ungkapan-ungkapan ganjilnya.

Seiring sejarah perjalanannya tasawuf melahirkan banyak tokoh besar yang amat berpengaruh kepada perkembangan tasawuf itu sendiri. Di antaranya adalah Hasan Al-Basri yang belajar langsung kepada Ali bin Abi Thallib. Rabi’ah Al-Adawiyah yang terkenal dengan penerapan konsep zuhud yang dilandasi oleh mahabbah yang mendalam. Abu Sulaiman Al-Darani yang terkenal sebagai ulama sufi yang menguasai ilmu hakekat dan sikap waranya. Abu Yazid Al-Busthami sufi pertama yang berbicara terbuka mengenai konsep fana’fi Allah dan baqo’fi Allah. dan Junaid Al-Bagdhadi ulama sufi yang mengembangkan konsep makrifat.

Dalam tasawuf dikenal istilah maqamat yaitu tahapan-tahapan yang harus dilalui oleh seorang calon sufi dalam usaha untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Sedangkan hal/ahwal adalah suasana perasaan atau keadaan mental seseorang seperti, senang, sedih, taku dan lain-lain. Terdapat tujuh tingkatan kesufian atau tadi disebutkan sebagai maqamat yakni, zuhud, taubat, wara’, sabar, fakir, tawakkal, ridha. Wallahu a’lam bisshawab.

Penulis: Rizki Maulana/FITK UIN Jakarta/Volunteer

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here